Translate

Investor lebih memilih pegang dollar

Sunday, June 24, 2012 | Permalink

Info Rupiah Indonesia - Jumat pekan lalu , dolar masih menjadi primadona lantaran kebutuhan dolar yang besar di pasar uang. Investor cenderung pegang dolar karena lebih safe, itu juga karena indeks volatile. Tren negatif di Asia menjadikan investor lebih memilih pegang dolar. Hal tersebut didukung pula oleh sentimen negatif untuk semua mata uang di dunia.

Pekan ini, nilai tukar rupiah akan melemah seiring dengan tekanan yang muncul dari sentimen global dan tidak jauh-jauh dari kisaran 9.500 per dolar AS. Rupiah bahkan sempat terpuruk hingga ke 9.518 per dolar AS, tapi dapat diredakan oleh Bank Indonesia. Rupiah, menurut kurs tengah BI, Jumat (22/6/2012) berada di level Rp9.473 per USD, sama seperti periode yang sama hari sebelumnya. Sementara menurut Bloomberg, rupiah ada di Rp9.841 per USD. Secara akumulatif, sepanjang pekan lalu, rupiah telah terdepresiasi 96 poin (1 persen) dibanding minggu sebelumnya.

Sementara itu, bursa Asia ditutup turun termasuk bursa Indonesia (IHSG) merespon melemahnya data-data ekonomi AS. IHSG turun 0,31 persen menjadi 3.889,52. Sedangkan harga minyak mentah ditutup naik setelah mencapai level terendah sebelumnya.

Perhatian investor akan kembali ke masalah Eropa sambil berharap ada sentimen positif yang mampu meredakan gejolak di Benua Biru. Sentimen positif atas kondisi Eropa diperkirakan belum akan membuat pergerakan rupiah leluasa. Pergerakan mata uang lokal masih bergantung pada perkembangan situasi di Eropa serta BI yang tetap konsisten dalam mengawal pergerakan nilai tukar rupiah.

Pertemuan empat pemimpin Uni Eropa, yakni Jerman, Perancis, Italia, dan Spanyol, menyetujui proposal mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan itu. Namun, Jerman tetap menolak memberikan fleksibilitas dana pinjaman dan pembentukan joint euro bond. Pasar AS ditutup naik sedangkan pasar Eropa turun pada akhir perdagangan minggu lalu. Ketidakpuasan pelaku pasar terhadap data ekonomi Negeri Abang Sam menguatkan kembali posisi dolar AS. Di pasar mata uang, hanya dolar AS yang dianggap sebagai tempat yang memiliki risiko paling kecil untuk investasi saat ini. Kemungkinan pasar Asia hari ini akan positif menyambut rencana UE mendorong pertumbuhan ekonomi.

Tidak adanya indikasi yang jelas dari Bank Sentral AS (The Fed) untuk mengucurkan stimulus tambahan melalui pelonggaran kuantitatif lanjutan(QE3) membuat para pelaku pasar kembali cemas. Ini artinya aliran dolar AS yang bakal masuk ke pasar regional akan terbatas. Akibatnya, investor asing kini mulai melakukan restrukturisasi modalnya di pasar berkembang, termasuk Indonesia.

0 comments:

Post a Comment

Indeks Dollar

ratrimoneychanger
Masukan Email Anda disini: