Info Rupiah Indonesia - Sentimen positif di bursa global menyemangati pergerakan nilai tukar rupiah atas dollar AS di awal pekan ini. Lelang surat utang negara besok juga diperkirakan menjadi katalis positif.Pasar masih akan digerakkan oleh sentimen dari Uni Eropa, yakni terkait realisasi pertemuan pimpinan Eropa Juni lalu. Sementara itu, ada pula faktor dalam negeri yang juga mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar. Revisi target pertumbuhan ekonomi ke 6-6,5 persen dengan tidak menurunkan tingkat suku bunga acuan di 5,75 persen akan memberikan sentiment negatif terhadap pergerakan rupiah.
Sebagaimana diketahui pada perdagangan akhir pekan lalu, rupiah ditutup melemah. Kendati sempat melemah mendekati Rp 9.500 per dollar AS pada pergerakan trading harian. Pelemahan ini dipengaruhi oleh merosotnya nilai mata uang euro terhadap dolar. Selain itu ada kekhawatiran dari kondisi dalam negeri Indonesia khususnya pada pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ada indikasi perlambatan ekonomi domestik, dan ini juga seiring kebijakan BI sendiri yang menaikan uang muka kredit perumahan dan kendaraan jadi 30 persen.
Nilai tukar rupiah ditutup stabil di Rp 9.448 per dollar AS. Penguatan juga terjadi pada sebagian besar bursa Asia termasuk Indonesia (IHSG). IHSG ditutup naik 0,89 persen menjadi 4.019,67. Harga minyak mentah, baik Brent maupun WTI juga ditutup naik. Harga Brent menjadi 102,62 dollar AS per barrel dan harga WTI menjadi 87,1 dollar AS per barrel.
Rupiah juga berpotensi menguat tipis tertolong lelang SUN esok, juga seiring dengan adanya sentimen global yang sedikit membaik. Rupiah diperkirakan bergerak antara Rp 9.420 dan Rp 9.450 per dollar AS.
Kementerian Keuangan akan menerbitkan surat berharga negara (SBN), yaitu dua seri SPN dengan tenor di bawah 1 tahun dan tiga seri SUN dengan tenor 5 tahun, 20 tahun, dan 30 tahun. Target indikatif kelima seri tersebut sebesar Rp 6 triliun.
Euro diperdagangkan 0,6 persen dari level terendah dalam dua tahun sebelum laporan minggu ini, yang mungkin menunjukkan inflasi stagnan dan melemahnya keyakinan di blok mata uang sebagai pertumbuhan memperdalam krisis berdaulat peredaman.
Euro telah mengalami penurunan 4 persen dalam tiga bulan terakhir. Euro kehilangan 0,1 persen menjadi $ 1,2241 setelah menyentuh $ 1,2163, level terendah sejak Juni 2010. Yen menguat 5,8 persen pada periode yang sama, sementara dolar naik 3,9 persen.
Ketua Federal Reserve Ben S. Bernanke akan membahas prospek ekonomi dan kebijakan moneter dalam kesaksiannya kepada Komite Perbankan Senat AS besok. Pembuat kebijakan akan siap untuk mengambil langkah-langkah tambahan jika diperlukan, termasuk pembelian aset tambahan.
Bank-bank sentral di Brazil dan Korea Selatan menurunkan suku bunga acuan mereka minggu lalu, sementara Bank of Japan (8301) tiba-tiba diperluas pembelian aset program, alat kebijakan moneter utama. Bank Rakyat Cina mengumumkan penurunan suku bunga yang kedua dalam satu bulan pada 5 Juli. Bank Sentral Eropa memangkas suku bunganya ke rekor hari yang sama.
Volatilitas yang lebih rendah membuat investasi dalam mata uang dengan suku bunga acuan pinjaman yang lebih tinggi lebih menarik karena risiko dalam perdagangan tersebut adalah pasar yang bergerak akan menghapus keuntungan.

0 comments:
Post a Comment