Harga emas berada pada level US$ 1,676.86 per troy ounce dan para investor menganggap emas adalah aset berisiko dan mencari keamanan dengan membeli uang tunai. Akibatnya Dollar AS (Indeks Dollar) mengalami penguatan seiring dengan naiknya harga berbagai komoditas berbasis Dollar AS.
Harga perak mengalami penurunan yaitu sebesar US$ 32,49 per troy ounce sudah sesuai dengan target yang diperkirakan yaitu US$ 32,65 per troy ounce bahkan beberapa pengamat memperkirakan harga perak dapat turun hingga mencapai US$ 31,80 per troy ounce sedangkan tembaga turun 0,1 persen menjadi $ 8,279.25 per metrik ton di London Metal Exchange.
Naiknya Dollar AS memukul Euro dan beberapa mata uang Asia lainnya, untuk saat ini Euro berada pada level $ 1,3112, kekhawatiran baru terhadap krisis Yunani menjadi pemicu utama melemahnya Euro ini. Won Korea Selatan juga melemah 0,3 persen menjadi 1,125.88 per Dollar, Ringgit Malysia berada pada level 3.0305 per Dollar AS, Peso Filiphina turun 0,2 persen ke level 43,025 sedangkan Rupiah Indonesia berada pada level Rp9.184 (Kurs USD IDR saat ini).
Rupiah Indonesia diprediksikan bisa melemah ke level Rp 9.200 karena ada kemungkinan Bank Indonesia akan kembali memangkas suku bunga acuannya sekitar 25 basis poin ke 5,5% dan akan dipertahankan sepanjang tahun ini. Prediksi ini didasari dari tren inflasi yang sangat rendah dalam 23 bulan terakhir yang mana inflasi februari hanya 3,56% year on year. Bulan Februari akan menjadi batas bawah dari siklus inflasi dan tren kenaikan akan mulai tampak pada bulan Maret akibat dari naiknya harga minyak dunia yang memaksa pemerintah memikirkan kenaikan BBM bersubsidi pada bulan April.

0 comments:
Post a Comment