Info Rupiah Indonesia - Euro dan saham Asia kembali tergelincir setelah munculnya pernyataan dari Ketua Federal Reserve Ben S. Bernanke yang mengatakan akan mencari stimulus dan tindakan yang tepat guna memulihkan kondisi AS. Sentimen ini lebih mencerminkan kekhawatiran di AS karena orang lebih banyak mengharapkan pelonggaran kuantitatif dan bahkan beberapa saran dari Bernanke guna merangsang perekonomian di AS namun hal itu tidak terjadi.Tidak hanya Euro dan saham Asia saja yang melemah termasuk juga beberapa harga komoditas ikut tergerus ditambah munculnya sentimen negatif dari China yang mana China menurunkan suku bunga acuannya bahkan ini pemangkasan yang pertama sejak krisis global yang melanda China pada akhir tahun 2008. Pemangkasan ini sebenarnya menjadi sesuatu yang positif karena ditujukan guna menekan potensi perlambatan ekonominya namun munculnya di waktu yang tidak tepat sehingga menimbulkan kecurigaan bahwa sesuatu yang buruk sedang melanda China.
Disamping tindakan pemangkasan yang diambil Bank Rakyat China ini pada hari Selasa lalu Reserve Bank of Australia juga melakukan hal yang sama juga negara berkembang seperti Brazil dan India bahkan sudah melakukannya sejak bulan lalu. Pelonggaran moneter ini seolah-olah menjadi tren guna menangkal penurunan pertumbuhan sehingga merendam kekhawatiran investor dan sekaligus mendukung pasar.
Akibatnya Euro semakin tertekan dan turun 0,3 persen menjadi $1,2525 terhadap Yen berada pada level 99,54 dan posisi Dollar AS terhadap Yen yaitu 79,44. Sedangkan harga beberapa komoditas turun seperti tembaga turun 1,8 persen berada pada $7.364 per ton,seng turun 1,2 persen,nikel turun 1,5 persen dan minyak turun ke level US$ 83,06.
Senasib dengan mata uang lainnya Rupiah Indonesia juga masih tertekan terutama oleh sentimen negatif China, hari ini Rupiah akan bergerak dikisaran Rp 9.350-Rp 9.400 dan aksi ambil untung yang dilakukan investor akan menghadang jalannya Rupiah.

0 comments:
Post a Comment