Info Rupiah Indonesia - Pasar saham Wall Street melemah setelah The Federal Reserve (Bank Sentral Amerika Serikat) bertindak untuk membantu perekonomian yang rapuh dengan stimulus sesuai harapan pasar, tetapi tidak ada langkah yang lebih konkrit. Keputusan bank sentral ini tidak sesuai dengan ekspektasi pasar.Bank Sentral AS juga memangkas proyeksi ekonomi tahun ini dan juga menurunkan perkiraan untuk dua tahun ke depan. Aksi jual jangka pendek muncul setelah investor frustasi karena aksi QE3 belum tentu muncul dalam waktu dekat. Dari perkiraan The Fed yang agak mengecewakan tersebut, investor menganggap bahwa bank sentral tidak akan melakukan tindakan lanjutan yang agresif kedepannya. Hal ini mengindikasikan bahwa The Fed tidak akan mengucurkan program pelonggaran kwantitatif lanjutan (QE3).
Kondisi pasar global semakin bervariasi. Ini menyusul harapan investor atas program QE3 di Amerika Serikat yang tidak pasti diadakan, sehubungan dengan revisi pertumbuhan ekonomi atas negeri itu.
Investor Wall Street tetap mencermati perkembangan Eropa terkait masalah krisis utang. Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan dana talangan Eropa, termasuk mekanisme pembelian utang negara di pasar sekunder obligasi, namun ini hanya murni teoritis perntanyaan dan sedang tidak dibahas. Di sisi lain, Kanselir Jerman Angela Merkel berharap Spanyol segera mengajukan permintaan bantuan sebanyak 100 miliar euro dalam beberapa hari ke depan.
Euro jatuh seperti Spanyol disiapkan untuk lelang obligasi hari ini di tengah tanda-tanda krisis utang Eropa yang menumpulkan pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut.Menteri Keuangan Eropa akan bertemu di Luxembourg untuk membicarakan krisis keuangan serikat mata uang itu. Sementara itu, data ekonomi bisa menunjukkan krisis ini membebani output perusahaan dan sentimen rumah tangga.
Rupiah melemah setelah The Fed memutuskan hanya akan memperpanjang program stimulus lama. Sebelumnya, investor berharap bank sentral AS itu akan meluncurkan kebijakan stimulus baru, yang mungkin bisa membangkitkan kepercayaan pasar untuk berinvestasi di aset negara berkembang.
Nilai tukar rupiah kemarin ditutup melemah di Rp 9.430 per dollar AS (kurs tengah Bloomberg). Sementara itu sebagian besar bursa saham Asia menguat termasuk bursa Indonesia (IHSG). IHSG naik 1,63 persen menjadi 3.943,90. Namun harga minyak mentah langsung drop merespon revisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi AS.
Dalam rangka meningkatkan pendalaman pasar keuangan, khususnya pasar valas domestik. Bank Indonesia saat ini sedang mengkaji berbagai ketentuan mengenai transaksi valas, mengembangkan instrumen hedging, dan meningkatkan pemanfaatan dana hasil lelang TD valas yang diharapkan. Bank Indonesia kembali membuka lelang Term Deposit (TD) dengan target indikatif sebesar 400 juta dolar AS untuk tenor 7, 14, dan 31 hari. Jumlah penawaran yang masuk untuk seluruh tenor mencapai 1,08 miliar dolar AS atau mengalami oversubscribed. Hasil lelang Bank indonesia menyerap sebesar 595 juta dolar AS dengan rincian TD 7 hari 265 juta dolar AS, TD 14 hari 195 juta dolar AS dan TD 31 hari 135 juta dolar AS. Sebelumnya, BI sudah melakukan dua kali lelang TD valas yang ditujukan untuk menyerap kelebihan dana valas di pasar uang antar bank yang selama ini ditempatkan di luar negeri.

0 comments:
Post a Comment